Opini by. QSD Syndicate
Ada suami yang mengijinkan istrinya pergi ke negeri orang dengan hati yang hancur, tetapi tetap berusaha tersenyum. Bukan karena ia rela kehilangan kebersamaan, melainkan karena ia ingin melihat keluarganya hidup lebih baik.
Di balik keberangkatan itu, ada hati seorang laki-laki yang sedang berperang dengan perasaannya sendiri. Ia menahan kesedihan, menyingkirkan kecemasan, bahkan mungkin menyalahkan dirinya sendiri karena merasa belum mampu memberikan kehidupan yang layak bagi istri dan anak-anaknya.
Ia akhirnya mengizinkan istrinya pergi. Bukan untuk mencari pengganti, bukan untuk membuka lembaran cinta yang baru, melainkan untuk memperjuangkan masa depan yang mereka impikan bersama.
Sementara istrinya bekerja jauh di negeri orang, sang suami tetap menjalani kehidupannya di tanah air. Ia bekerja, berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, menjaga anak, dan menunggu dengan keyakinan bahwa jarak hanyalah ujian sementara.
Namun, siapa sangka, setelah waktu berlalu dan penghasilan mulai membaik, justru muncul perubahan yang paling menyakitkan. Komunikasi tak lagi hangat. Sikap mulai berubah. Rasa hormat perlahan menghilang. Bahkan, permintaan untuk berpisah mulai terdengar, seolah-olah pernikahan yang telah dibangun bersama hanyalah ikatan yang bisa dilepaskan kapan saja.
Lebih menyakitkan lagi apabila di balik perubahan itu ternyata ada hati yang mulai tertambat kepada pria lain, sementara status sebagai seorang istri masih melekat.
Lantas, ke mana perginya janji yang dahulu diucapkan? Ke mana hilangnya rasa malu ketika kepercayaan pasangan mulai dipermainkan?
Apakah keberhasilan memperoleh penghasilan sendiri membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan pasangan yang dahulu mendukung kepergiannya?
Apakah seorang suami hanya dianggap berharga ketika mampu memberikan uang, lalu kehilangan nilainya ketika penghasilan istrinya mulai lebih baik?
Jika benar demikian, sungguh menyedihkan ketika pernikahan diperlakukan seperti hubungan bisnis: dipertahankan ketika menguntungkan, lalu ditinggalkan ketika dianggap tidak lagi dibutuhkan.
Perlu diingat, suami yang mengizinkan istrinya bekerja ke luar negeri bukan berarti menyerahkan istrinya untuk melupakan ikatan pernikahan. Ia memberikan kepercayaan, bukan kebebasan untuk mengkhianati. Ia merelakan jarak, bukan merelakan kesetiaan. Ia berharap istrinya pulang membawa harapan, bukan kembali dengan hati yang telah diberikan kepada orang lain.
Seorang suami mungkin tidak sempurna. Ia mungkin belum kaya, belum mampu memenuhi seluruh keinginan keluarga, atau masih berjuang memperbaiki keadaan. Namun, kekurangan ekonomi bukan alasan untuk merendahkan martabatnya, apalagi menjadikan pengorbanannya sebagai sesuatu yang tidak bernilai.
Sebab, laki-laki yang tetap bertahan ketika istrinya pergi juga sedang berjuang. Hanya saja, perjuangannya mungkin tidak terlihat dalam bentuk mata uang asing, tidak terdengar melalui cerita keberhasilan di negeri orang, dan tidak selalu mendapatkan pujian.
Ada luka yang ia simpan sendirian. Ada harga diri yang diam-diam runtuh. Ada malam-malam ketika ia mempertanyakan dirinya sendiri: Apa salahku sampai orang yang kupercaya tega memperlakukanku seperti ini?
Dan bagi seorang suami yang masih mencintai istrinya, tidak ada yang lebih menghancurkan daripada menyadari bahwa ia sedang berjuang mempertahankan rumah tangga, sementara orang yang diperjuangkannya justru mulai memikirkan kehidupan bersama orang lain.
Jika memang sudah tidak ingin menjadi seorang istri, selesaikanlah ikatan pernikahan dengan cara yang terhormat. Jangan meminta kesetiaan dari pasangan ketika diri sendiri tidak lagi mampu menjaganya. Jangan menuntut pengertian, jika kejujuran justru ditinggalkan.
Ingatlah, uang yang diperoleh dari kerja keras memang bisa memperbaiki rumah, membayar kebutuhan anak, dan mengangkat derajat ekonomi keluarga. Tetapi uang tidak pernah menjadi ukuran tunggal kemuliaan seseorang.
Jangan sampai ketika kehidupan mulai membaik, justru hati nurani mengalami kemunduran. Jangan sampai keberhasilan yang seharusnya menjadi kebanggaan berubah menjadi alasan untuk melupakan orang-orang yang pernah menemani masa-masa sulit.
Dan bagi siapa pun yang mulai berpaling, renungkanlah satu hal: jika dahulu pasanganmu menerima kekuranganmu, mendukung keputusanmu, dan menahan kesedihan demi masa depan bersama, pantaskah pengorbanan itu dibalas dengan sikap yang melukai?
Rasa malu bukan terletak pada seorang istri yang bekerja jauh dari suami. Rasa malu seharusnya muncul ketika kepercayaan yang diberikan dengan tulus justru disia-siakan.
Sebab, pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah bukanlah pengkhianatan. Memiliki penghasilan lebih besar juga bukan kesalahan. Namun, mempermainkan kepercayaan, merendahkan pasangan, dan membangun hubungan baru tanpa menyelesaikan ikatan pernikahan secara bertanggung jawab adalah persoalan moral yang tidak boleh dianggap sepele.
Pada akhirnya, setiap orang berhak menentukan masa depannya. Tetapi kebebasan menentukan pilihan tidak menghapus tanggung jawab atas janji yang pernah diucapkan dan hati yang mungkin telah dilukai.
Jangan menunggu sampai anak-anak bertanya mengapa orang tuanya berpisah. Jangan menunggu sampai semua pengorbanan menjadi cerita pahit. Dan jangan mengira seseorang yang diam berarti tidak terluka.
Bisa jadi, suami yang hari ini memilih diam sedang menahan kehancuran yang tidak sanggup ia ceritakan kepada siapa pun.
Sebab, laki-laki yang terluka bukan selalu laki-laki yang lemah. Terkadang, ia hanya terlalu tulus untuk membenci orang yang pernah ia perjuangkan sepenuh hati.
QSD Syndicate
Catatan reflektif: Sebuah opini tentang kesetiaan, harga diri, dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Bukan tentang melarang istri meraih kesuksesan, melainkan mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semestinya menghapus rasa hormat dan kejujuran terhadap pasangan.


