Ada kalanya sebuah perubahan besar tidak hadir dengan gegap gempita. Ia datang perlahan, menembus kebiasaan yang telah lama mengakar, lalu mengajak manusia melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Demikianlah yang terasa ketika Muhammadiyah meluncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada 25 Juni 2025.
Bagi sebagian orang, kalender mungkin hanya lembaran angka yang berganti setiap hari. Ia tergantung di dinding, tersimpan di telepon genggam, atau menjadi pengingat jadwal kegiatan. Namun bagi umat Islam, kalender Hijriah memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia menjadi penanda perjalanan ibadah, penunjuk datangnya Ramadan, penentu hari raya, dan pengingat berbagai momentum penting dalam sejarah Islam.
Karena itu, ketika Muhammadiyah memperkenalkan KHGT, yang ditawarkan sesungguhnya bukan sekadar sistem penanggalan baru. Yang diperkenalkan adalah sebuah gagasan besar tentang persatuan. Sebuah ikhtiar agar umat Islam di berbagai penjuru dunia dapat berbagi tanggal yang sama, merasakan pergantian bulan yang sama, dan menatap waktu dalam bingkai yang lebih universal.
Kini, setelah satu tahun sejak peluncurannya, KHGT menghadirkan ruang refleksi yang menarik. Kita diajak melihat kembali makna di balik sebuah kalender, sekaligus memahami mengapa Muhammadiyah menaruh perhatian begitu besar pada persoalan waktu.
Selama ini, perbedaan penetapan awal bulan Hijriah sering menjadi bagian dari kehidupan umat Islam. Perbedaan tersebut lahir dari keragaman metode dan pendekatan yang berkembang dalam khazanah keilmuan Islam. Dalam banyak kesempatan, umat telah belajar untuk menghormati perbedaan itu sebagai bagian dari dinamika ijtihad.
Namun Muhammadiyah memandang bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat global membuka peluang baru. Dunia kini semakin terhubung. Jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang komunikasi. Aktivitas umat Islam berlangsung lintas negara dan lintas benua. Dalam konteks seperti itu, kebutuhan akan kalender Islam yang berlaku secara global menjadi semakin relevan.
KHGT lahir dari kegelisahan sekaligus harapan tersebut.
Kegelisahan karena umat Islam yang mengimani Tuhan yang satu, Nabi yang satu, dan kiblat yang satu, masih sering menjalani kalender yang berbeda. Harapan karena ilmu falak modern memungkinkan lahirnya sistem penanggalan yang lebih terintegrasi dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di sinilah Muhammadiyah menunjukkan watak tajdidnya. Persyarikatan ini tidak berhenti pada mempertahankan tradisi keilmuan yang telah ada, tetapi terus berupaya menjawab tantangan zaman melalui pendekatan ilmu pengetahuan. KHGT menjadi bukti bahwa agama dan sains tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.
Akan tetapi, perjalanan sebuah gagasan besar tidak pernah selesai pada saat peluncuran. Setahun penggunaan KHGT menunjukkan bahwa pekerjaan terbesar sesungguhnya berada pada ranah edukasi dan pemahaman masyarakat. Masih banyak umat yang bertanya tentang konsepnya, metodologinya, bahkan implikasinya terhadap praktik keberagamaan sehari-hari.
Pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal yang wajar. Setiap pembaruan selalu membutuhkan waktu untuk dipahami. Sebagaimana benih yang ditanam hari ini tidak langsung menjadi pohon yang rindang, demikian pula KHGT memerlukan proses panjang sebelum benar-benar menjadi kesadaran kolektif umat Islam dunia.
Yang patut disyukuri adalah bahwa diskusi tentang kalender Islam kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang akademik. Ia telah menjadi perbincangan yang lebih luas di tengah masyarakat. Banyak orang mulai memahami bahwa kalender bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari upaya membangun peradaban.
Peradaban besar selalu ditopang oleh kemampuan mengelola waktu. Bangsa-bangsa maju menyusun kalender, menghitung musim, dan mengatur ritme kehidupan dengan cermat. Dalam konteks itulah KHGT dapat dipandang sebagai salah satu kontribusi Muhammadiyah bagi peradaban Islam kontemporer.
Lebih dari itu, KHGT mengajarkan sebuah pelajaran yang sederhana namun mendalam: persatuan tidak selalu dimulai dari hal-hal yang besar. Kadang ia berawal dari kesediaan untuk berbagi titik temu. Dari kesediaan untuk menata langkah bersama. Dari kesadaran bahwa waktu yang kita jalani sesungguhnya adalah amanah yang sama dari Allah SWT.
Mungkin jalan menuju kalender Islam global yang diterima seluruh umat masih panjang. Mungkin masih akan ada diskusi, kritik, dan perbedaan pandangan di masa mendatang. Namun sejarah selalu bergerak melalui keberanian orang-orang yang berani memulai.
Muhammadiyah telah mengambil langkah itu.
Dan ketika kita menoleh ke belakang, setahun setelah peluncuran KHGT, yang tampak bukan hanya sebuah kalender. Yang tampak adalah ikhtiar panjang untuk menghadirkan keteraturan, membangun persatuan, dan meneguhkan keyakinan bahwa Islam memiliki kapasitas untuk menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Pada akhirnya, KHGT bukan hanya tentang menghitung hari. Ia adalah tentang bagaimana umat Islam memaknai perjalanan waktu. Sebab waktu, sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-'Ashr, bukan sekadar rangkaian detik yang berlalu. Ia adalah ruang tempat manusia membangun iman, amal, dan peradaban.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari KHGT: sebuah ikhtiar untuk menjadikan waktu sebagai jembatan persatuan umat, bukan lagi sebagai batas yang memisahkan mereka.
Penulis :D. Maulana WP
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi
PCM Sukoharjo - Pringsewu