Tragedi Pringsewu: Nyawa Rakyat Melayang di Tengah Belit Administrasi, PWRI Kecam Dalih SOP Dinas Kesehatan!

 


Lampung1news.com | Pringsewu– Kabar duka menyelimuti Kabupaten Pringsewu. Pasien kecelakaan lalu lintas berinisial AS, yang sempat menjadi polemik akibat tertahan belasan jam di IGD RS Surya Asih dan diduga ditolak halus oleh RS Mitra Husada, akhirnya menghembuskan napas terakhir di RS Advent Bandar Lampung, Senin (29/12/2025) sekitar pukul 17.30 WIB.

Meninggalnya AS menjadi tamparan keras bagi sistem pelayanan kesehatan dan fungsi pengawasan di Pringsewu. Ironisnya, beberapa hari sebelum pasien wafat, Dinas Kesehatan Pringsewu melalui surat resmi nomor 400.718433/D.02/XII/2025 menyatakan bahwa hasil investigasi mereka menunjukkan pelayanan di RS tersebut "sudah sesuai SOP".

Ketua DPC PWRI Pringsewu, Rio Batin Laksana (RBL), hadir langsung melakukan takziah ke rumah duka. Kehadiran RBL bukan sekadar bentuk empati, namun juga untuk mengawal keadilan bagi keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya di tengah polemik pelayanan kesehatan.

Di rumah duka, Ketua PWRI menyaksikan langsung duka mendalam yang tak terlukiskan dari keluarga almarhum. Sebuah rasa sakit dan kehilangan yang nyata, yang mungkin tidak akan pernah bisa dirasakan oleh mereka yang hanya menjawab laporan masyarakat lewat selembar kertas dingin bertuliskan 'SOP sudah sesuai.

Rio menilai, surat jawaban Dinkes yang berdalih pada prosedur SISRUTE dan kebijakan manajemen biaya rumah sakit kini terasa hambar di hadapan jenazah almarhum. "Dinkes bilang SOP benar, tapi hasilnya nyawa tidak tertolong. Apakah prosedur birokrasi kini lebih berharga daripada nyawa warga Pringsewu?" tegas Rio dengan nada bergetar.

Dengan adanya fakta kematian ini, PWRI Pringsewu akan melakukan langkah-langkah luar biasa. Selain meneruskan temuan ini ke Bupati dan Inspektorat, PWRI juga mempertimbangkan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum atas dugaan kelalaian dan penelantaran pasien gawat darurat yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.


"Jangan lagi ada 'Sapi Perah' di rumah sakit. Jangan lagi ada warga yang ditolak karena kamar penuh atau biaya. Kami akan kawal kasus ini hingga ada pertanggungjawaban nyata dari pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan," pungkas Rio Batin Laksana.


Hingga berita ini diturunkan, suasana duka masih menyelimuti kediaman almarhum AS. Publik kini menanti, apakah pemerintah daerah akan tetap diam atau akhirnya berani mengambil tindakan tegas pasca tragedi kemanusiaan ini. (Tim Inv PWRI) 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama